Ads



Tak seharusnya kata itu mengalir tanpa koma, Kembali kembali pada diri sendiri. Hayati sendiri.


Malam itu entah kenapa mood buruk mendera. Padahal sebelumnya saya sudah membaca sebuah artikel yang menjelaskan bagaimana rasanya jadi pimpinan keluarga. Tapi, satu kalimat yang terlontar oleh ayah malam itu, nge-nah ke saya.

Keluarlah umpatan umpatan ala posessed dan akhirnya malah ngunci pintu kamar, nyalain kipas, tepar. Bahkan si kakak juga sampai saya bawa-bawa.
Kata ibu, saya itu nggak bisa dibawa sma nada tinggi kalau ngomong. Yaudah sekarang sayanya juga naik kan nadanya.
Pagi besoknya saya hanya mendiamkan beliau dan orang-orang yang ada dirumah, terus ingat lagi si adek cerita kemarin sore. Si Mamah nangis. Karena saya. Ayah marah-marah, karena saya. Sepele sih, malas. Saya mah suka kabur-kaburan gitu, di pagi, sampai malam baru pulang lagi kerumah.

“Ma, aku berangkat ya”
“Mau kemana, hari ini jumat.”
“Seminar Mah, Assalamualaikum”
Langsung nyalain motornya mamah, dan cuss pergi.
Mungkin atau nggak fokus atau apa ya?
Inalillahiwainailaihirajiun.
Astaghfirullah.
Mulai lah semua renungan tadi malam muncul lagi dan terngiang ngiang.
“Dek, coba telpon orang tuanya aja.”
Nggak berani. Takut.
Gimana ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sumbangi Sambangi Platform