Ads

Fajar di Puncak Petang
Oleh : Rabbiatun Jumiyanti
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat,maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah (2:11)
Perjalanan yang ditempuh kini makin berat. 
Bebatuan yang telah kami lalui selama empat kilometer dari titik awal keberangkatan kian menerjal membuat kami kepayahan dalam berjalan.
 Titik titik es halus mulai menyapu dahi kami saat kami menatap ke langit Timika. Kami berjalan lebih cepat dan semakin bersemangat, tujuan kami tetaplah puncak. 
Bukan bermaksud menggagahkan diri dalam jalan pendaki.
 Ini salah satu cara kami untuk mensyukuri nikmat yang masih dapat kami terima di penghujung usia muda sebelum menginjak kepala dua.
 Matahari kian menyisir penjuru barat. 
Udara mulai bergerak di sekitar kami dan dinginnya malam mulai menyapa kami di 4.884 mdpl menuju puncak Cartenz yang telah ditutupi butiran kristal es. 
Kami tahu sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya).
 Kemanapun kami menghadap, disanalah wajah Allah. Karena kepunyaan Allah lah semua arah, timur dan barat, langit dan bumi dan jiwa-jiwa insan di bumi.
 Apapun yang terjadi nantinya adalah berkat rahmat Allah.
Bismillahirahmanirrahim.
***
Ya, inilah kami. Lima orang pelajar yang baru saja menyelesaikan tugasnya di Madrasah Aliyah Negeri sebagai sekelompok pengajar muda yang membaktikan diri untuk negeri. Kami berlima diberikan kesempatan untuk menginjak wilayah paling timur Indonesia.
 Selama dua tahun kedepan kami dijanjikan untuk memenuhi harapan masyarakat di daerah
Aku, Fajar Addinan Hakim. Dua Puluh Tahun kurang 2 hari usiaku saat ini bersama empat sahabat yang baru kutemui di dermaga.
Saat ku turunkan barang-barangku, seorang laki-laki sebayaku melambaikan tangannya sesaat setelah kapal yang ia tumpangi merapat ke dermaga. 
Peci coklat yang ia kenakan dengan baju koko coklat dan celana gantung hitam tampak rapi sebagai sebuah setelan yang membalut tubuh gagahnya.
‘Apa dia menyapaku?’, pikirku dalam hati.
Laki-laki itu hanya membawa sebuah tas jinjing dan ransel yang disandang pada bahu kirinya.
“Assalamualaikum, akhi. Perkenalkan Saya Amiruzzuhra. Asal saya dari Nusa Tengggara Timur. Apakah antum juga salah satu yang mengikuti relawan muda untuk 3T?”, sapa lelaki yang bernama Amir, katanya.
“Waalaikumsalam. Iya akhi, Saya berasal dari Sumatera Selatan, di daerah Pagar Alam. Apa antum tau daerah saya? Hehe”, saya mengulurkan tangan menyambut perkenalan saudara baru saya hari ini.
“Ah, iya. Saya pernah mengunjungi karib saya disana. Dan ia sering mengajak saya untuk melakukan pendakian ke puncak Dempo. Gunung Dempo salah satu gunung yang berada di sana, kan akhi?
 Baru sekitar dua bulan yang lalu, sahabat karib saya mengunjungi saya di Nusa Tenggara Timur dan satu bulan setelahnya saya mengunjunginya dan ia mengajak saya untuk jalan – jalan di ketinggian, satu hari setelah saya tiba disana. 
Dan sekarang saya sudah harus kembali ke timur. Rasanya waktu berlalu begitu cepat kalau saya mengingat perjalanan kami.”
“Oh, Afwan akhi, saya lupa memperkenalkan diri saya. Panggil saja saya Fajar.”
“Ah iya. Salam kenal akhina Fajar.”
“Apa antum tau tiga orang lagi yang menjadi relawan yang ikut datang kemari?”, Amir bertanya pada saya. Sepertinya ia tidak membaca nama-nama yang tertulis di situs Dikbud selaku penyelenggara kegiatan ini.
 Saya sendiri membaca, tapi tidak cukup tahu siapa saja mereka.
 Yang pasti saya tahu, 5 orang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini berasal dari 5 pulau di Indonesia dari melihat asal daerah yang dicantumkan pada pengumuman.

“Sebentar.. sebentar..”, aku mengecek surat yang kudapatkan dan melihat nama-nama yang tercantum disana.
“Amiruzzuhra, Dioni Adnan Al Hadiid, Abdurahman, Fajar Addinan Hakim, Rizki Fadlika.”
Matahari sudah menuju peraduannya untuk istirahat. Kapal tiga orang pemuda lainnya tiba di dermaga.
Dua orang dengan setelan rapi berjalan berbarengan, dan seorang lainnya dengan kemeja Flanel dan Jeans belel serta sepatu gunung yang menatap layar ponselnya berjalan sambil menghampiri kami berdua.
“Rahman, Kiki dan Adnan.”
Pemuda yang memperkenalkan dirinya pertama ialah Rahman, lelaki disebelahnya Kiki dan yang berjalan di belakangnya Adnan.
“Yahoo.. Akhirnya !!” Pemuda yang menatap layar ponsel tadi berteriak sambil mengayunkan kepal tangannya ke udara.
‘Apa benar ia juga murid Madrasah ?’
***
Suasana yang kami rasakan disini cukup berbeda saat kedatangan pertama, karena berbeda dengan di sekolah, kami tidak akan disuapi oleh apapun melainkan mencari tau semuanya sendiri.
 Dan masyarakat disini yang mayoritas non-muslim harus membuat kami beradaptasi lagi untuk lebih sopan dalam menerima ataupun menolak tawaran.
Kami ditugaskan untuk membina masyarakat terutama anak – anak dan mama yang merupakan istri pegawai dari perusahaan pertambangan yang terkenal disana.
George, salah satu murid kami menceritakan mimpinya untuk melihat salju di puncak jaya wijaya. Papanya pernah melakukan pendakian kesana dan bisa ditebak, cerita yang disampaikan George sangat menarik. 
Terutama Adnan yang dengan semangatnya mengajak kami berempat untuk bercerita lebih dengan papa George petang itu juga.
 Sedikit bercerita petang itu ternyata Adnan juga punya impian yang sama.
 Dididik menjadi sispala di sekolahnya membuat keinginan mengibarkan namanya di puncak Jaya Wijaya begitu besar dan sekarang mungkin bisa terwujud.
Sebagai yang paling muda, Adnan meminta kami untuk ikut serta dalam perjalanan yang ia sebut ekspedisi itu. Amir menyetujuinya.
 Aku yang tidak punya latar kegiatan olahraga selain catur ini sebenarnya agak berat menyetujui permintaan Adnan. 
Namun karena Kiki dan Rahman menyetujuinya dengan berat hati aku mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari persiapan materi dan latihan dasar serta latihan fisik yang dipimpin Adnan.
Memang kemampuan advokasinya sepertinya telah terlatih. Semoga ia juga membimbing jalan dakwah dengan baik dan memeliharanya. 
Persis seperti seorang instruktur handal, ia menyiapkan semua kelengkapan yang kami berlima butuhkan. 
Tanpa pemandu. Hanya bermodalkan cerita dan materi yan disampaikan papa George beberapa hari lalu.
***
Hari ini adalah hari keberangkatan kami. Kami memulai pendakian dengan berkumpul sekitar pukul 22.00 WIT di Shopping family mile 68 dengan naik bus menuju ke mile 74 dan menaiki tram ke Grasberg menuju dumping area. 
Sampai dan beristirahat hingga pukul 02.30. Kami bangun kembali dinihari untuk sholat malam terlebih dahulu dan mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Perjalanan dimulai setelah sholat shubuh berjamaah.
 Surya diatas cakrawala belum nampak sepenuhnya, tampi semburat kehangatannya tetap menyapa pagi kami dan memberi semangat bahwa hari akan cerah dan tidak ada badai di puncak sana nantinya.
Kami melewati zebra wall, danau-danau, pintu angin, hingga sampai pos tempat beristirahat. Matahari mulai naik. Aku begitu lelah dak tak sadar terlelap dan mendengar sayup sayup suara adzan berkumandang. 
Disaat lafal terakhir, aku terbangun dan melihat adnan di depan mataku.
“Abang nggak apa-apa?” Tampak Adnan dan yang lainnya memperhatikanku khawatir.
“Kalau antum capek, kita istirahat lebih lama lagi. Nggak papa kan Adnan?” Kiki membuka suara.
“Nggak apa-apa bang, kita kan lewat Harrer’s Route dan sudah menempuh setengah jalan. Sekitar 5-6 jam lagi lewat bebatuan kita bisa tiba di puncak bang. Kalau mau membuka santapan pagi, dibuka aja bang. Kita istirahat setengah jam.”
Matahari masih bersembunyi dibalik awan tebal di ketinggian. Kami tak bisa memperkirakan waktu, tapi Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Adzan yang kudengar tadi apakah memang pertanda sesuatu?
“Apa sekarang sudah masuk waktu sholat ? Ana mendengar adzan di sela ana terlelap.” Aku bertanya khawatir.
“Sepertinya sudah bang. Ayo kita sholat.” Adnan membuka carrier dan menggelar sajadah ke arah barat laut pada tempat yang cukup datar dan bertayamum dengan yang lainnya.
“Allahuakbar.” Amir memimpin sholat dzuhur dan jama’ ashar kami hari itu.
***
Melanjutkan pendakian, lima jam telah berlalu. Pepohonan di sekitar pegunungan JayaWijaya ,bekas kerukan tambang emas terpapar di sepanjang perjalanan serta samudera luas -namun tak begitu jelas- tampak oleh kami selama menelusuri jalur pendakian. Maha Besar Allah akan semua ciptaan-Nya.
Semburat jingga dibalik laut mulai memudar. 4880 mdpl tercetak di Altimeter yang dibawa Adnan. Sedikit lagi di puncak, kami akan menyaksikan Gletser di bumi Indonesia.
Subhanallah.
4884 mdpl di puncak Carstenz Pegunungan Jaya Wijaya.
Dengan kekuatan yang tersisa Allah masih memberikan kemampuan kepada insan-Nya untuk menyadari lemahnya dirinya dan besarnya kuasa-Nya. Kemanapun kami menghadap disanalah kami melihat Wajah Allah dalam bentuk cahaya dan keindahan luar biasa. Seandainya aku masih kuat saat ini.
“Bang, indah ya ! Allahuakbar !” Adnan bertakbir dan diikuti hingga menggema oleh kami semua.
“Allahuakbar!” Teriakanku ikut menyatu dengan takbir kami berlima.
Kurasakan badanku membeku dan selanjutnya yang kudengar adalah suara adzan berkumandang kembali.
Allahuakbar.. Allahuakbar... Lailahailallah..
“Bang !! Bang Fajar !!”
“Disini POS 78. Kami butuh bantuan. SOS !!. Kami mempunyai korban Hipotermia dengan traumatik. Dimhon bantuannya segera. Diulangi.. Disini POS 78. Kami butuh bantuan segera, korban dalam keadaan hipotermia. Kami butuh bantuan segera.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sumbangi Sambangi Platform