Ads

Perjalanan Menyusuri Kenangan



Nyala layar PC di kamarnya masih kedap kedip sejak 2 jam yang lalu. Katanya padaku ia akan selesai dalam 20 menit lagi. Hanya menyelesaikan dan meninjau 5 halaman lagi, katanya. 

Aku meninggalkannya di ruang kerja ku dan menuju ke dapur untuk menyeduh segelas kopi favoritku. Kemudian aku berjalan gontai ke ruang keluarga dan menyalakan televisi untuk melihat peristiwa apa saja yang terjadi seharian ini di Indonesia ataupun lintas dunia. 
Kuperhatikan detik waktu tetap berjalan dalam ketukan yang sama dan teratur. Sebentar lagi pasti jam itu akan berbunyi.

Dong.. Ding.. Dong.. Ding..Ding ..Dong. Ding.. Dong

Sambil menyeruput kopi hitam ku yang masih mengepul asapnya, ku ganti pelan pelan channel TV dan beralih ke siaran yang biasanya aku dan dia tonton. Namun kali ini aku saja yang menikmatinya.

"Belasan warga korban longsor di daerah Gowa, ditemukan selamat oleh TIM SAR setelah berupaya menyelamatkan diri dan bertahan selama 9 jam di bawah timbunan longsor. Bla .. bla.. bla..."

Rupanya masih siaran berita yang tayang. Bencana yang tidak bisa dihindarkan lagi kejadiannya. Selintas aku kembali mengingat saat itu. Namun aku tak bisa mengingat dengan jelas bagaimana kejadian itu bisa menimpa kami sekeluarga. Yah, walaupun waktu sudah terlalu lama berlalu, kenangan itu masih ada. 

***



"Yeee... Ayah sudah pulang.. " gadis kecil ku berlari menuju pintu masuk dan langsung bergelayut di kakiku. Aku mengacak acak rambut ikalnya.
Ia hanya cemberut sambil menatap mataku dari tubuhnya yang mungil.
"Hahaha... Jangan marah sayang.." aku menyetarakan posisi ku agar sejajar dengannya.
"Ayah pasti lupa, kan?" Tampak masih kesal, ia berkata kepadaku. 
"Ayolah ayah.. Kan aku sudah minta dari satu bulan yang lalu. Tadi pagi ibu bilang ayah akan membelikannya untukku." Ia menimpali perkataannya sendiri.
"Apa? Oh iya. Ayah lupa sayang." Lucu sekali wajahnya. Aku membuka tas kerja ku dan mengeluarkan sebuah kotak putih.
"Ayah lupa membawanya kemarin. Jadi baru hari ini bisa ayah bawa pulang." Ujarku agar gadis kecilku ini reda rasa kesalnya.
"Hehe.. Terimakasih ayah. Sini ranselnya kubawakan. Ibu... Ibu... Ayah pulang..."
Ia meraih tas kerjaku dan meneriaki gadisku yang lain. Senang rasanya bisa mendapatkan kehangatan seperti ini.

***

Angin membelai wajahku yang telah mengeras karena tempaan dan caci maki dari atasanku. Mengatakan bahwa aku tidak profesional. Andai mereka tau apa yang terlintas di benakku. Tak ada yang lain yang bisa kupikirkan selain menemani kekasih hatiku saat itu.

Semua terlambat 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sumbangi Sambangi Platform