16 personality test yang terakhir saya ikuti menunjukkan saya adalah seorang INFP, walaupun dulu di sekolah menengah saya pernah mendapatkan hasil ISFP yang sebenarnya tidak jauh berbeda.
Entah bagaimana orang orang dengan personality ini hidup, saya sendiri sebenarnya sangat ingin keluar dari personality ini. Tapi apa mau dikata, sampai saat ini, hasil personality test ini menunjukkan saya ada di kelas ini.
I-N-F-P
Kesalahan terbesar seorang INFP adalah ketika menemukan kalau dirinya INFP, dia jadi bajingan pembenci diri yang justru kagum pada dirinya sendirinya.
(*sad but true)
Mereka merasa dirinya spesial, merasa punya kemampuan istimewa. Tapi lama untuk bergerak, terlampau banyak memikirkan hal-hal enggak penting. Seorang idealis, yang terlalu idealis. Seorang pemikir, yang terlalu banyak berpikir dan berkontemplasi. Jika enggak dikasih dorongan buat memulai, hanya akan berakhir jadi onggokan sampah. (*jikalau dibiarkan berlama lama bersama kemampuannya ini, ia benar benar tak akan jadi apa apa, teman)
Mereka sungguh inkompeten, sering enggak menuntaskan apa yang mereka mulai. Sebenernya mereka mampu. Tapi sekali lagi, terlalu banyak mikir. Juga terlalu takut buat melakukan kesalahan. Bisa melihat banyak pilihan dan kemungkinan, seringnya malah kebanyakan, yang akhirnya malah makin bikin bingung.
Mereka kadang terlalu serius, tapi kadang terlihat main-main. Pendengar yang baik, namun mereka sebenarnya ingin didengarkan juga, ingin bicara tapi enggak tau apa yang harus disampaikan.
Seorang pesimis, tapi bisa jadi optimis, kadang skeptis, dan bisa jadi seorang oportunis. Mereka adalah kumpulan paradoks, saya pun sebagai bagian dari mereka belum mampu melihat diri sendiri seutuhnya.
So, itu artikel yang saya temuin di salah satu blog teman INFP. Nanti saya kasih credit ya, saya lupa soalnya. Hihi.
Jadi, kasihan atau gimana ?
INFP harus apa?
18:16




Tidak ada komentar:
Posting Komentar